Bareskrim Polri secara resmi menetapkan Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama. Ahok dijerat dengan Pasal 156 a KUHP Jo Pasal 28 ayat 2 Undang-undang (UU) Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.
Kabar tersebut langsung terdengar dan sampai ke telinga ketua umum partai politik pendukung calon petahana Pilkada DKI Jakarta itu. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto langsung turun tangan, mengambil langkah taktis menyikapi kasus yang menjerat Ahok. Termasuk mengevaluasi dan menyusun strategi anyar agar jagoan mereka tetap bisa merebut hati rakyat meski tersangkut kasus hukum.
Sesaat setelah Ahok ditetapkan tersangka, semua partai pengusung dan pendukungnya kompak mengeluarkan pernyataan kesetiaan berada di belakang Ahok. Mereka satu suara tidak akan mundur sedikitpun dan tetap mendukungnya.
![]() |
| Raksasa-raksasa Politik ini Turun Tangan usai Ahok jadi Tersangka |
Setya Novanto kembali mengutarakan bahwa Presiden Jokowi tak ikut campur dalam kasus yang menjerat Ahok. Dia mengatakan, Jokowi telah meminta kepolisian untuk bersikap profesional dan transparan.
"Pak Jokowi itu saya rasa tepat, dia selalu konsisten dan tidak ada intervensi apapun. Beliau sudah sampaikan secara jelas kepada saya, bahwa tidak pernah ikut campur terhadap saudara Ahok dan itu adalah urusan partai," kata Novanto di Kompleks Istana Kepresidenan.
Di markas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengumpulkan struktur DPD, terutama daerah yang menggelar Pilkada. Megawati mempersilakan para anggota DPD bertukar gagasan, lalu di bagian akhir diputuskan gerak dan strategi pemenangan.
Usai rapat internal, Mega menyampaikan pokok pembahasan dan sikapnya terkait kasus Ahok. Mega mengingatkan semua pihak untuk menghormati proses hukum yang sedang berjalan dan tidak mendesak penegak hukum. merdeka

